Cermin Hati: Si Kupu dan Si Babi

  

“kupu-kupu tidak tahu seperti apa warna sayapnya, tapi orang-orang tahu betapa indahnya mereka. babi tidak tahu seperti apa mukanya, tapi orang-orang tahu betapa buruknya mereka”

Terima kasih tetangga sebelah yang sudah menginspirasi 1 kalimat pertama. Sungguh, betapa manusia itu sering khilaf. Lupa pada diri sendiri. Mungkin karena kita terlalu sering memandang dunia luar. melihat kesuksesan orang, kekurangan orang, kelebihan orang, dan semuanya tentang orang lain yang kita lihat. Namun, bisa dikatakan, sebagian besar dari kita jarang melihat pada diri kita sendiri. Kita sering kali minder / tidak percaya diri, merasa merasa kecil di mata orang lain, namun sesungguhnya kita mempunyai sesuatu yang dapat dibanggakan, dan sesungguhnya hal itu sangat indah, seperti halnya kupu kupu. Di lain sisi, kita pun terkadang terlalu egois, bahkan egois kita mengalahkan nilai nilai luhur yang kita miliki sebagai manusia. Apa jadinya? Ya, kita terkadang bertindak di luar batas kewajaran, sesuka hati, berbuat buruk, jahat, dan yang paling parah adalah kita tidak menyadari bahwa tindakan kita tersebut adalah tindakan buruk. Padahal kita tahu, kita sadar, kita yang melakukannya, namun tidak ada rasa di dalam hati / keyakinan bahwa perbuatan tersebut buruk. Apakah ada yang salah dengan hati kita? mungkin mata kita terbuka lebar, bagaimana dengan mata hati kita? Bukankah untuk menjadi lebih baik kita perlu melakukan evaluasi diri?

Sering kita dengar dari motivator, inspirator, orang sukses, dan lainnya bahwa penting bagi kita untuk berkaca pada diri sendiri, tidak hanya melihat kekurangan dan apa yang salah pada diri kita, namun juga melihat apa pencapaian yang telah kita dapatkan. Tidak hanya sekedar memberi peringatan pada diri kita akan hal hal buruk, namun juga memberi penghargaan atas pencapaian kita. Setidaknya ada motivasi untuk terus berubah menjadi baik dan meninggalkan hal hal buruk. Intinya adalah instropeksi diri dan menghargai diri ini..

Terakhir, alangkah indahnya suatu “kritik” , orang lain memberikan kritikan, karena mereka peduli, kepedulian itu mahal harganya, karena mereka (pemberi kritik) ingin agar kita menjadi lebih baik. Beruntunglah kritkan datang pada anda. Namun sayangnya kita sering kali sudah menutup diri dari kritikan sehingga kritik tersebut mental, tidak berarti untuk kita. begitu pula dengan pujian, datangnya dari orang lain bukan? jangan lah kita jadi orang yang menerima pujian saja dan menolak kritikan, karena semua itu penting untuk diri kita dan biasanya orang lain lebih paham akan hal itu. Yap, semoga kita selalu bisa menjadi manusia yang berbuat baik, menjadi orang yang berakhlak baik, meninggalkan ego ego yang buruk, dan mengangkat nilai nilai luhur yang ada.  Terima kasih untuk semua pihak yang telah mengkritik maupun memuji saya, hal itu sangat bermanfaat dan luar biasa. terimakasih. kelak, kita semua akan menjadi lebih baik.. Aamiin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s