Kampung dan Tabiat

5 atau 10 tahun tak pulang. Kampung seperti semula. Sepi, lenggang, hanya diisi para orang tua, ibu, dan anak.

Memang sudah diduga, kampung tak akan pernah berubah.

Bukan kampung yang jadi masalah. Tapi tabiat, itulah soalnya. Tak berubah. Bahkan yang perilakunya baik, kini sontak hilang.

Karena satu-satunya sarjana di kampung, rasa sombong mendapat mahkota.

Karena mendapat beasiswa, rasa bangga tak terbendung di dada. Bertemu teman lama, seolah sudah tak setaraf, canggung asing jadinya. Karena sudah mengenal kota, bayang-bayang kampung tak lagi tersisa. Berlama-lama di kampung, alamat tak maju. Akhirnya kampung di tinggal tetap merana. Sementara diri yang pongah ini terbawa terus kemana-mana. Lupa bahwa dirinya berasal dari desa yang menunggu polesan putra-putri terbaiknya.

-Erie Sudewo-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s